Jalurlombok – Lombok Barat, Tantangan pola asuh anak dan remaja di tengah pesatnya perkembangan teknologi menjadi perhatian dalam Lomba Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI), rangkaian Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Tingkat Kabupaten Lombok Barat Tahun 2026 yang berlangsung di Desa Gapuk, Kecamatan Gerung.
Mengusung tema “PKK Gapuk Pasti Bisa Menuju Lombok Barat Sejahtera dari Desa”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang penilaian, tetapi juga menjadi momentum pembinaan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program PKK, khususnya dalam memperkuat ketahanan keluarga serta pola asuh anak dan remaja.
Kepala Desa Gapuk, Nurdin, S.Pd.I., mengatakan perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan peran keluarga dalam memberikan pendidikan, pengawasan dan pendampingan kepada anak.
“Era digitalisasi membawa banyak perubahan. Karena itu, pola asuh anak harus menjadi perhatian kita bersama. Anak-anak harus tetap kita arahkan dengan norma agama dan norma sosial,” ujar Nurdin, Senin, 21 September 2026.
Menurutnya, pembinaan anak membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk kader PKK dan Posyandu yang berada dekat dengan keluarga.
“Termasuk ibu-ibu kader Posyandu, kita harapkan ikut bergerak memberikan pembinaan kepada masyarakat. Kita bersama-sama mengawal anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Nurdin menyampaikan apresiasi atas kehadiran Tim Penilai HKG PKK Kabupaten Lombok Barat, Ketua PKK serta para finalis yang mengikuti kegiatan PAAREDI.
“Saya nyatakan kegiatan ini dibuka. Selamat datang kepada tim penilai, Ibu Ketua PKK dan para finalis. Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan menjadi motivasi bagi kita semua,” ucapnya.
Camat Gerung: Lomba Sekaligus Evaluasi Pembinaan
Camat Gerung, Fitriati Wahyuni, S.STP., mengatakan pelaksanaan PAAREDI perlu dimaknai lebih luas karena tidak hanya berkaitan dengan perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari evaluasi terhadap perkembangan pembinaan PKK di tingkat desa.
“Kegiatan ini menjadi motivasi sekaligus evaluasi bagi kita. Kita ingin melihat sejauh mana pembinaan dan pemberdayaan yang sudah kita lakukan dapat terus ditingkatkan,” ujar Fitriati.
Ia menyebut keterbatasan anggaran masih menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan berbagai program. Meski demikian, pembinaan masyarakat diharapkan tetap berjalan secara berkelanjutan.
“Kita ketahui bersama bahwa anggaran masih terbatas. Untuk kegiatan ini sementara lebih kepada pembinaan. Kita akan coba usahakan agar ke depan dukungan anggaran bisa ada penambahan,” jelasnya.
Fitriati juga berharap seluruh desa dapat memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan serupa sehingga PAAREDI dapat berkembang dan tidak berhenti hanya pada momentum perlombaan.
“Kita inginkan semua desa bisa ikut lomba. PAAREDI juga jangan berhenti sampai di sini, tetapi bisa terus berkembang dan menjadi bagian dari pembinaan masyarakat,” katanya.
Selain bidang pembinaan keluarga, Fitriati melihat PKK memiliki potensi untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk melalui pendampingan terhadap pelaku UMKM.
“PKK ini bisa menjadi penggerak dan pengayom UMKM. Jadi kita berharap peran PKK semakin luas dalam mendukung masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap HKG PKK dapat menjadi momentum untuk meningkatkan semangat kader dalam berkarya dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Semoga lomba ini menjadi motivasi kita untuk lebih maju dan berkarya. Mudah-mudahan PKK kita menjadi lebih baik dan para kader semakin semangat,” tuturnya.
Linda Mustika: Orang Tua Harus Jadi Benteng Anak
Ketua PKK Desa Gapuk, Linda Mustika, A.Md.Kep., S.Kep., Ners, menekankan pentingnya peningkatan peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk karakter anak sekaligus membentengi mereka dari dampak negatif perkembangan teknologi.
Menurutnya, teknologi dan media digital telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sehingga pendampingan orang tua menjadi hal penting dalam proses tumbuh kembang mereka.
“Kita ingin meningkatkan peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk karakter anak dan membentengi mereka dari dampak negatif perkembangan teknologi media digital,” ujar Linda.
Ia menegaskan, pembentukan karakter anak tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan formal, tetapi harus dimulai dari lingkungan keluarga dan dilakukan secara konsisten.
Linda juga mengingatkan bahwa esensi PAAREDI tidak semata-mata mengejar hasil perlombaan.
“Lomba bukanlah tertuju pada kalah dan menang, tapi tertuju pada pembinaan berkelanjutan. Bagaimana hasil dari pembinaan ini bisa terus diterapkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat,” katanya.
Pokja I Dorong Pembentukan Generasi Emas
Sementara itu, Tim Penggerak Penilaian Lomba, Hj. Napa’ah, S.ST., menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan PAAREDI merupakan bagian dari tugas Pokja I yang dilaksanakan secara berjenjang.
“Kegiatan kami di Pokja I salah satunya melakukan pembinaan di semua desa. Ini merupakan pembinaan secara berjenjang, mulai dari pusat, provinsi hingga ke tingkat desa,” jelas Hj. Napa’ah.
Ia menilai tantangan pola asuh semakin kompleks seiring perkembangan teknologi. Karena itu, diperlukan keterlibatan keluarga dan kader PKK dalam memberikan pendampingan kepada anak dan remaja.
“Kita harus tetap semangat membangun generasi emas, termasuk di era digitalisasi. PKK menjadi salah satu ujung tombak untuk menggerakkan keluarga dan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, PAAREDI menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan perhatian terhadap pola asuh sekaligus mendorong upaya pencegahan berbagai perilaku negatif sejak usia dini.
“Kita berbicara tentang pola asuh anak, bagaimana mencegah perilaku negatif sejak dini. Ini harus menjadi perhatian bersama, karena anak-anak kita adalah generasi yang akan datang,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Desa Gapuk bersama PKK dan kader Posyandu terus mendorong penguatan pembinaan keluarga dan pola asuh anak serta remaja.
PAAREDI diharapkan tidak berhenti pada penilaian lomba, tetapi menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan untuk membangun keluarga yang lebih kuat serta generasi muda yang mampu menghadapi perkembangan teknologi dengan tetap berpegang pada nilai agama dan norma sosial.