Jalurlombok — Lombok Tengah, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Keputusan tersebut diambil setelah sebanyak 352 siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Batukliang dilaporkan mengalami sejumlah gejala kesehatan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat, 11 September 2026.
SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu tersebut berada di bawah naungan Yayasan Budi Sain Mangkling.
Kasatgas Makan Bergizi Gratis (MBG) NTB, Fathul Gani, mengatakan penghentian sementara dilakukan sebagai langkah penanganan terhadap insiden yang dinilai menonjol dalam pelaksanaan program MBG.
“Ini berdasarkan fakta lapangan karena selama ini kalau ada kejadian seperti ini langsung di-suspend,” kata Gani.
Ia menjelaskan, penghentian operasional belum ditentukan sampai kapan. Keputusan untuk kembali menjalankan pelayanan akan dilakukan setelah proses evaluasi dan investigasi terhadap insiden tersebut selesai.
“Untuk sementara kita suspend dulu sampai batas waktu yang belum ditentukan,” ujarnya.
Peristiwa tersebut diketahui terjadi setelah makanan MBG didistribusikan kepada siswa di SDN Repok Puyung, SDN Beber, dan MTs Qudwatun Hasanah.
Makanan dari SPPG tersebut mulai didistribusikan sekitar pukul 08.15 WITA. Selanjutnya, makanan dibagikan kepada siswa sekitar pukul 09.00 WITA.
Tidak berselang lama, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan kesehatan. Laporan awal menyebut gejala mulai muncul sekitar pukul 09.10 WITA hingga 12.15 WITA.
Hingga Jumat sore, jumlah sementara siswa yang mengalami gejala tercatat sebanyak 352 orang.
Ratusan siswa tersebut kemudian mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan. Sebanyak 144 siswa ditangani di Puskesmas Pringgarata, 124 siswa di Puskesmas Aik Darek, 67 siswa di Puskesmas Mantang, dan 17 siswa lainnya mendapatkan penanganan di Puskesmas Bagu.
Gani mengatakan para siswa masih terus dipantau oleh petugas kesehatan. Sebagian telah diperbolehkan kembali ke rumah setelah menjalani pemeriksaan, sedangkan sebagian lainnya masih menjalani observasi.
“Observasi itu sekitar tiga jam, baru dipastikan boleh pulang atau tetap dirawat. Kita masih menunggu update-nya,” jelasnya.
Adapun makanan yang dibagikan pada hari kejadian diketahui terdiri atas nasi, ayam goreng tepung, sayur, menu cacah, serta roti canai atau makanan sejenis sebagai pelengkap.
Meski demikian, BGN belum memastikan jenis makanan maupun komponen tertentu yang menjadi penyebab munculnya keluhan kesehatan para siswa.
Tim investigasi epidemiologi masih melakukan pemeriksaan dan penelusuran untuk mengetahui sumber permasalahan serta memastikan penyebab kejadian tersebut.
Gejala yang dilaporkan dialami siswa cukup beragam, mulai dari pusing, mual, muntah, nyeri pada bagian mulut atau perut, lemas, sesak napas hingga diare.
Dalam proses evaluasi awal, terdapat temuan yang menjadi perhatian, yakni dugaan makanan dikonsumsi setelah melewati batas waktu ideal.
Namun, Gani menegaskan temuan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab kejadian. Investigasi masih dilakukan untuk memastikan apakah terdapat hubungan antara waktu konsumsi makanan dengan munculnya gejala pada para siswa.
“Terpenting semua pihak harus mengevaluasi bahan makanan, kan ada ahli gizi juga. Kepala dapur harus menjadi kepala rumah tangga yang memilah dan memilih bahan terbaik untuk dimasak,” tegas Gani.
Menurutnya, pengawasan terhadap program MBG tidak hanya berhenti pada proses memasak. Kualitas bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga waktu makanan dikonsumsi harus diperhatikan secara ketat.
Insiden tersebut kini menjadi perhatian dalam evaluasi pelaksanaan program MBG di Lombok Tengah. Penghentian sementara operasional SPPG dilakukan sebagai langkah kehati-hatian sembari menunggu hasil investigasi dan evaluasi lebih lanjut.
Sementara itu, kondisi para siswa yang mendapatkan penanganan medis masih terus dipantau. Pemeriksaan epidemiologi dan evaluasi terhadap SPPG juga masih berjalan untuk mengungkap penyebab kejadian secara menyeluruh serta memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.(Hel)
